Medis

Apakah Individu Autistik Dewasa Mampu Hidup Mandiri?

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Thursday, 24 June 2021

Dalam masa perkembangan anak autistik, mereka sangat memerlukan bantuan dari orang tua maupun pengasuh untuk merawat dan senantiasa memberikan support kepada mereka. Ketika anak beranjak dewasa, yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka mampu untuk hidup secara mandiri? Jawabannya adalah mereka mampu, namun banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan tidak semudah yang dipikirkan.

Cerita tentang Erik dan anaknya

Erik adalah seorang ayah yang memiliki anak autistik dengan kecerdasan yang tinggi. Ia seringkali bertanya kepada dirinya sendiri dan membayangkan, apakah anaknya mampu hidup dengan mandiri ketika beranjak dewasa? Ia menceritakan pengalamannya ketika mengalami kejadian tertentu yang tidak terduga terjadi di rumahnya. Saat itu anaknya tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa terdiam. Pernah suatu kali anaknya secara tidak sengaja menjatuhkan gelas kaca di dapur. Seketika itu juga Erik berlari ke dapur dan melihat anaknya hanya berdiri terdiam dan tidak mampu untuk mengkomunikasikan seceara verbal apa yang terjadi. Erik pun berkata “Jangan bergerak nak, ayah akan membereskan gelasnya terlebih dahulu”. Setelah selesai membersihkan pecahan gelas yang ada, barulah Erik dapat mendiskusikan kejadian ini dengan anaknya secara pelan-pelan.

Erik juga mengilustrasikan suatu kejadian yang terjadi di rumah, contohnya alarm kebakaran. Setiap orang memiliki alarm kebakaran di rumahnya untuk alasan tertentu. Ketika alarm tersebut secara tidak sengaja berbunyi, maka akan terdengar suara yang sangat kencang. Orang normal pada umumnya akan mencari cara untuk segera mematikannya, namun anaknya akan terdiam, berteriak, dan berusaha menutup telinganya. Kejadian yang tampaknya sederhana di dalam rumah dapat menjadi sangat rumit bagi individu autistik. Contoh dari dua kejadian inilah yang tidak diinginkan Erik terulang pada anaknya ketika beranjak dewasa nanti. Tidak hanya Erik saja, hal ini menjadi dilema bagi setiap orang tua yang memiliki anak autistik. Banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Jadi, bagaimanakah caranya?

Dokter Bill, seorang dokter ahli di bidang kesehatan mental dan autistik, berpendapat bahwa kadang para orang tua khususnya yang memiliki anak autistik, cenderung melihat sisi delay in learning dari anak mereka. Hal ini membuat orang tua kurang mengajarkan kepada anak mereka “bagaimana untuk melakukan sesuatu”. Orang tua seharusnya mampu mendukung dan melatih anak, serta memikirkan hal apa saja yang dibutuhkan anak agar dapat ber “fungsi” sebagaimana mestinya sesuai dengan keunikan yang mereka miliki. Hal ini dapat ditanamkan orang tua kepada anaknya sejak usia kecil (di rumah dan di sekolah).

Ajarkan anak untuk melakukan aktivitas bersama dengan orang tua. Pembelajaran dapat dilakukan bersama-sama dengan orang tua, namun secara perlahan anak akan terlatih dengan melakukan aktivitas tertentu. Anak akan belajar mengimitasi dan mengikuti tuntunan dari pelatihnya (dalam hal ini bisa orang tua, guru, instruktur, teman bermain, pengasuh, dan lain-lain.) Libatkan anak dalam aktivitas seperti memasak, perencanaan makanan yang akan dimasak, belanja kebutuhan sehari-hari, membersihkan rumah, memperbaiki benda yang simpel, dan masih banyak lagi, dengan catatan orang tua tetap harus memperhatikan keamanan dari aktivitas yang dilakukan (karena setiap individu autistik memiliki kemampuan yang berbeda-beda). Orang tua dapat membuat daftar kegiatan keterampilan (skill) yang akan diajarkan secara berulang dan membangun aktivitas tersebut menjadi rutinitas sehari-hari (ketika skill telah dipelajari, terus latih dan biasakan menjadi kegiatan anak sehari-hari). Tempatkan anak pada situasi hidup sehari-hari dan disertai dengan support dari orang tua pastinya, dan biarkan mereka melakukan dengan cara yang paling sesuai dengan dirinya sendiri (temukan permasalahannya, usulkan pilihan-pilihan penyelesaiannya, dan evaluasikan hasil dari penyelesaian yang dipilih).

Hal tersebut merupakan tujuan jangka panjang. Semuanya membutuhkan proses, kesabaran, dan waktu yang tidak sebentar. Pada dasarnya mereka mampu untuk mempelajari suatu hal, namun individu autistik membutuhkan pengarahan yang sangat terstruktur, harus terus dilakukan berulang-ulang, dan dilakukan dengan konkrit. Jangan pernah berhenti mengajarkan hal yang mereka sudah mulai pelajari dan pahami. Learning by doing sangat penting bagi anak autistik. Jangan menunggu anak hingga beranjak dewasa, namun mulailah dari sekarang.

Sumber :

Nelson, B. (2015). Autism Parenting magazine : Can My Child Ever Learn to Live on His Own?(Ed. 32).

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Mahasiswa Sarjana Psikologi Peminatan Klinis, Universitas Atma Jaya, Jakarta

Ads on us
Kerjasama dengan TA
Kritik & Saran
Iklan Tes Deteksi