Jennifer Robert Bittner, orangtua dari anak autis, berbagi pengalamanya saat ia masih belum ‘terbiasa’ membesarkan anak dengan kebutuhan khusus. Saat itu, Jennifer sering merasa bingung dan kewalahan. Dia berandai jika dapat kembali ke masa lalu, ia akan meyakinkan dirinya yang dulu bahwa semua akan baik-baik saja.
Beberapa tahun yang lalu, dia mencoba untuk pergi berbelanja dengan kedua anaknya. Perjalanan mereka ke sebuah pusat perbelanjaan memakan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Suasana dan suara di luar rumah membuat anaknya yang paling kecil kewalahan. Saat itu dia masih pra-verbal, dan kurangnya kemampuan berkomunikasinya memicu rasa frustrasinya. Saat itu Jennifer tahu bahwa anaknya mengalami keterlambatan perkembangan, dan Jennifer mencurigai adanya autisme. Di saat itu, ia tidak tahu bagaimana membantu anaknya saat sedang marah. Ia juga belum tahu apa yang menyebabkan anaknya menjadi kesal, sehingga setiap hari dia selalu merasa cemas karena tidak dapat memperkirakan apa yang terjadi.
Hari itu mereka selesai berbelanja dan pergi ke kasir untuk membayar. Jennifer mengambil roti beras yang ada di tangan anaknya yang paling muda untuk melakukan pembayaran. Anaknya terkejut dan kesal, karena roti beras adalah makanan kesukaannya. Anaknya pun mulai berteriak dan menumpahkan kekesalan kepada orang yang paling dekat dengannya, yaitu anak sulung Jennifer. Anak Jennifer yang pertama mulai menangis dan adiknya tetap berteriak. Jennifer berusaha meredakan keadaan. Ia pun mulai merasa kewalahan dan mulai menangis sambil memeluk si sulung. Ia menangis karena rasa sakit yang dirasakan anaknya dan karena ketakutan, juga karena ia sedih melihat si bungsu yang marah. Dan meski Jennifer merasa emosinya kacau, ia juga dapat merasakan bahwa si bungsu merasa cemas dan ketakutan akan hal-hal yang dirasakannya.
Saat mereka berdiri di tengah-tengah antrian kasir, tiba-tiba semua barang belanjaan Jennifer mulai berjalan di meja kasir. Seorang yang tidak dikenal mengeluarkan semua barang belanjaannya. Ternyata ada karyawan yang datang dan membantu Jennifer. Manajer toko datang dan memeriksa apakah ada yang terluka. Manager itu pun ikut membantu proses pembayaran dan dua pegawai lainnya turut serta membantu. Jennifer menemukan dirinya dibantu oleh orang-orang yang tidak menghakimi. Orang-orang melihat mereka dengan pandangan prihatin dan setiap orang membantu dengan cekatan, menyadari bahwa keluarga Jennifer butuh segera menuntaskan kegiatan belanja mereka.
Seseorang bahkan datang dengan dua kue dan balon untuk membantu meredakan tangis kedua anaknya. Air mata Jennifer masih mengalir, tetapi kali ini lebih karena rasa syukur. Lalu salah satu pegawai membantu Jennifer memasukkan barang belanjaan ke mobil selagi Jennifer membantu kedua anaknya masuk ke mobil. Pegawai itu bertanya, “Apakah ada hal lain yang bisa dibantu?”. Jennifer baru berkendara beberapa saat sebelum ia merasa mulai kewalahan. Ia menelpon suaminya. Meski demikian, ia menemukan kekuatan melalui kebaikan orang-orang yang baru saja ia temui. Saat itu dirinya tidak tahu bahwa ia tidak perlu takut akan autisme. Dan betapa hal ini memberikan perspektif yang berbeda bagi anaknya. Ia tidak tahu bahwa ia akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Yang dia tahu, apa pun yang terjadi, ia akan terus memberikan kasih sayang dan dorongan kepada anak-anaknya.
Hari itu dia juga menemukan komunitas yang membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus dan orang tua dengan anak autis. Mereka saling berbagi cerita perjuangan dan kemenangan mereka. Komunitas tersebut mengajarkan Jennifer tentang bagaimana berjuang dan menerima keadaan. Serta bagaimana kebaikan mereka memberikan standar yang berbeda akan nilai dan kesempurnaan pada manusia. Dengan adanya dukungan dari komunitas dan orang-orang yang mengerti, Jennifer yakin segalanya akan baik-baik saja. Sikap mereka adalah pelajaran tentang kasih sayang, yang memberikan kenyamanan bagi para orangtua anak-anak berkebutuhan khusus. Jennifer pun berusaha melakukan hal serupa bagi orang-orang tersebut, sebagai upaya untuk membantu dan mendukung sesama orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus.
Penulis: Yesi Riana | Marketing di Community Music Center, Jakarta